Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia berkulit serupa, agama yang satu, tidak ada negara dan perbedaan. Perbedaan memang dikehendaki sang pemilik semesta. Perbedaan adalah hakekat penciptaan itu sendiri. Perbedaan itu indah!

Slider

BID

Pimpinan KPK?

Saat ini, baru diadakan proses pemilihan Ketua KPK jilid III, untuk periode 2012 - 2016. Berbagai kalangan berpendapat dan tentunya pendapat itu tergantung dari kepentingan masing-masing. Bagi yang ingin Indonesia bersih dari korupsi, maka pendapatnya tentulah ingin mencari profil ketua yang benar-benar mampu melakukan tugasnya dengan baik. Akan tetapi bagi yang terkena getah dari ulah KPK, tentunya ingin ketua yang dapat disetir.

Kita tentu masih ingat serangan balik dari para koruptor terhadap KPK. Ingat bagaimana rekaman antara Anggodo Widjojo dengan berbagai pihak dalam upaya kriminalisasi KPK? Bahkan kita sebenarnya tahu siapa-siapa saja yang gerah dengan ulah KPK yang telah memenjarakan orang-orang yang tidak mungkin dipenjarakan oleh sistem yang dikendalikan oleh Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, dan tentu saja, Penguasa dan Pengusaha.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa pimpinan KPK haruslah bersih dari unsur kepolisian dan kejaksaan. Ini sangat logis, karena pada kedua institusi itulah berbagai kasus penting mandeg karena berbagai alasan. Perlu dicatat bahwa pendapat itu dikeluarkan oleh Guru Besar Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, dengan alasan kemandirian KPK akan sulit tercapai jika masih ada unsur polisi dan jaksa pada tubuh pimpinan.

Akan tetapi, tentunya ada pendapat lain. Misalnya dari Gayus Lumbun yang juga anggota DPR RI yang mengatakan bahwa tidak perlu bersih dari unsur kepolisian dan kejaksaan. Alasannya tidak ada jaminan bahwa pimpinan dari luar kedua institusi tersebut bebas dari kekurangan. Memang logis alasannya, akan tetapi bukankah jika berasal dari kedua institusi tersebut akan lebih besar kemungkinan adanya kekurangan.

Ketika PDI Perjuangan memenangkan Pemilu 1999 sebenarnya bukan karena partai tersebut benar-benar bersih. Akan tetapi karena partai lama yang berkuasa yaitu Golkar sudah terbukti kotornya. Juga dengan kemenangan SBY pada pemilu 2004. Bukan karena SBY dianggap baik, akan tetapi rakyat sudah bingung memilih mana yang baik. Harapannya adalah bahwa dengan memilih SBY yang belum ketahuan baik atau buruknya, berarti ada kemungkinan menjadi baik. Sementara calon lain sudah terbukti keburukannya.

Dengan analogi tersebut, jika pimpinan KPK berasal dari unsur kepolisian atau kejaksaan, sudah terbukti keburukannya. Akan tetapi jika bukan berasal dari kedua institusi tersebut, ada kemungkinan baik. Memang minimalis sekali. Akan tetapi, jika tidak ada yang baik yang kita ambil, ya kita ambil yang kejelekannya paling sedikit. Memang kasihan rakyat Indonesia.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment