Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia berkulit serupa, agama yang satu, tidak ada negara dan perbedaan. Perbedaan memang dikehendaki sang pemilik semesta. Perbedaan adalah hakekat penciptaan itu sendiri. Perbedaan itu indah!

Slider

BID

Mengenang 40 Hari Erni Harmiati

Empat puluh hari sudah, engkau berpulang, tapi rasanya masih seperti kemarin! Apakah aneh? Mungkin tidak karena baru 40 hari. Tapi kepergian kerabat dekat yang sudah sekitar 20 tahun yang lalu, kok rasanya masih seperti kemarin? Kadang bertanya sendiri, mengapa demikian. Pernah sharing dengan kerabat yang juga telah kehilangan orang yang dicintai, sudah beberapa tahun yang lalu, tapi katanya juga seperti kemarin.

Jadi berpikir, mengapa demikian? Apakah berarti kita belum merelakan kepergiannya? Sepertinya tidak, karena kepergiannya telah direlakan dengan sepenuh hati. Lalu mengapa? Apakah ini karena ada keterkaitan 'tertentu' antara orang yang meninggal dengan orang dekat yang masih hidup? Atau inikah yang disebut cinta kasih? Kasih dari Tuhan sendiri?

Tuhan menciptakan manusia tentunya dengan sepenuh kasih. Dan sebelum ada ciptaan, tentunya tidak ada 'waktu' karena waktu adalah dimensi yang sama persis dengan dimensi jarak, yang keberadaannya semata-mata diperlukan sebagai konsekuensi dari eksistensi ciptaan. Ada ciptaan, maka harus ada dimensi waktu, dan dimensi jarak. Jadi ternyata kasih sejati, berada di atas waktu. Love beyond time, whatever the meaning of love, and time, even, love conquer time.

Jadi wajar sekali kalau kepergian orang terdekat kita yang sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi rasanya seperti kemarin. Kedekatan dan cinta kasih kita dengan orang yang meninggalkan kita telah 'menguasai' waktu.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment