Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia berkulit serupa, agama yang satu, tidak ada negara dan perbedaan. Perbedaan memang dikehendaki sang pemilik semesta. Perbedaan adalah hakekat penciptaan itu sendiri. Perbedaan itu indah!

Slider

BID

Mengambil Hikmah dari Seorang Tukang Cukur Rambut

Mengambil hikmah bisa dari siapa saja. Eit.....tunggu dulu, ini hikmah yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan, bukan Hikmah tetangga Anda lho.... :)
Nah back to main topic, suatu saat, saya sedang pergi ke tukang cukur rambut untuk memotong rambut saya yang sudah mulai memanjang. Menurut saya sebenarnya belum, tetapi menurut istri saya sudah panjang, jadi yach....women are always right, so pergilah saya ke tukang cukur. Rambut panjang memang sering membuat merasa risih, baik di sekitar leher bagian belakang, dahi di atas mata atau di bagian telinga luar. Akan tetapi yang paling membuat saya paling gerah adalah telinga bagian dalam. Lho kok bisa, ya itu tadi, women are always right!!!! Komentar ibu negara lah yang membuat telinga dalam saya merasa risih. Risih sekali!
Hmmm...ini sebenarnya topik yang agak mendalam, tentang hikmah hidup dan kehidupan. Jadi mohon untuk tidak fokus pada women are always right.

Ketika saya mulai ngobrol ngalor ngidul dengan tukang cukur (red. yang ngalor ngidul obrolannya, bukan orangnya, pasti susah potong rambut sambil jalan-jalan), ada beberapa ungkapan dari si tukang cukur yang membuat saya cukup merenung. Hanya cukup merenung, karena saya lebih merenung lagi ketika membayar ongkos potong rambut yang lebih mahal dari tukang potong rambut yang lain...hick...

Kalimat pertama yang membuat saya merenung adalah ketika mengobrol masalah umur. "Saya sudah tua lho, jadi potongnya biasa-biasa saja tidak usah yang model-model!" demikian kata saya. Tukang cukur itu menanggapi, "tuwo sesuk!" yang kurang lebih berarti, 'besok lebih tua!"

Sebenarnya itu sering dipercakapkan oleh orang-orang sambil nongkrong di jalan atau tepatnya nongkrong di tepi jalan, biar gak ketabrak mobil. Tapi entah mengapa saya agak terperangah, bibir saya mengatup perlahan dan sedikit bergetar, menahan rasa sakit rambut saya yang agak ketarik karena guntingnya mungkin kurang tajam. Besok pastilah kita lebih tua dari sekarang...itu pasti...tidak mungkin tidak! Lalu mengapa? Ini seakan mengingatkan saya bahwa hargailah waktu! Nikmatilah hidup ini sekarang! Besok kita sudah tidak semuda sekarang, itu pun jika Tuhan masih menghendaki kita bernafas!

Banyak orang yang fokus pada hari esok, sehingga lupa tentang kenikmatan dan anugerah hari ini yang sebenarnya sungguh-sungguh luar biasa. Kecemasan akan hari esok kadang membuat kita kehilangan kebahagiaan sekarang. Jadi buat apa takut tua atau cemas akan hari esok. Hari ini adalah kenikmatan yang mungkin tidak dapat kita nikmati di hari esok, jadi jangan ditunda-tunda lagi.

Obrolan kami berlanjut lagi. Karena tidak ada tema yang baku, maka ngeles ke obrolan tentang pendapatan tukang cukur. Dia menjawab santai sekali, 'Kalau sudah mendapat perintah untuk ke sini, pasti orang itu akan ke sini!" Coba, bisa dipahami gak?

Rejeki, satu di antara 4 hal yang ditentukan oleh Tuhan, di samping mati, jodoh dan lho, satunya apa? ini mengutip dari quote kakak saya, yaitu 'tetangga'. Kita fokus di rejeki saja, yaitu sudah menjadi hak Tuhan untuk memberikan kepada umat-Nya. Kita tinggal berusaha saja dan tidak usah fokus kepada hasil.  Rejeki sudah ada yang mengatur. Kalau Tuhan sudah mengatur rejeki tukang potong hari ini sebanyak 25 kepala, termasuk orang-orang yang setor kepala sudah diatur oleh Tuhan, maka orang itu tidak ada pilihan lain untuk datang ke tukang cukur tersebut. Ini sedikit rumit bagi saya, tetapi sudah dipahami dengan baik oleh si tukang cukur!

Dua hal tadi memang membuat saya mempunyai permenungan hidup yang lebih dalam. Tidak peduli siapa orang memberikan petuah atau nasihat kepada kita. Kalau itu nasihat yang baik, tidak ada salahnya kita gunakan. Demikian juga sebaliknya, jika ada petuah dari orang yang terhormat, kaya raya, tetapi nasihatnya tidak baik, ya buat apa kita ikuti. Kita cenderung mendengarkan perkataan dari orang yang terhormat, atau kaya atau terpandang, tanpa melihat isi dari perkataan itu tadi. Kalimat-kalimat sederhana yang muncul dari orang yang sangat sederhana, kadang mempunyai makna yang mendalam.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment