Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia berkulit serupa, agama yang satu, tidak ada negara dan perbedaan. Perbedaan memang dikehendaki sang pemilik semesta. Perbedaan adalah hakekat penciptaan itu sendiri. Perbedaan itu indah!

Slider

BID

Papa Minta Saham: Sebuah Opini

Sebelumnya, penting untuk saya tegaskan bahwa tulisan ini adalah opini, sekali lagi opini, jadi bukan fakta apalagi berita. Kalau nantinya ada yang mengutipnya dan menjadikannya sebuah fakta maka yang mengutip dapat dipastikan koplak. Apalagi ada yang mengutipnya lalu menjadikannya sebuah berita, wah itu benar-benar koplak permanen. Mengapa ini perlu saya sampaikan? Karena memang banyak sekali orang-orang atau mungkin sekelompok orang yang suka sekali mengutip tulisan, entah dari mana, lalu memelintirnya seolah-olah menjadi sebuah fakta! Saya tidak perlu memberikan contoh tentang hal ini.

Meskipun sebuah opini, akan tetapi memang tulisan ini juga menyinggung tentang fakta. Tidak mungkin sebuah opini muncul tanpa adanya sebuah fakta. Fakta yang pertama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Kontrak Karya Freeport adalah berakhir pada tahun 2021. Ya…memang pada tahun itu baru berakhir sesuai kontrak yang telah disepakati bersama antara FI dengan pemerintah Indonesia sebelum pemerintahan Jokowi. Jadi, jika ada yang memelintir dan mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi memperpanjang kontrak FI sampai dengan tahun 2021 itu benar-benar koplak permanen dan akut.

Jokowi pernah berkata, jika tidak menghormati pemerintahan sebelumnya, maka FI sudah saya tendang sekarang. Itu benar adanya. Jokowi sendiri sudah beranggapan bahwa FI memang sangat merugikan Indonesia, oleh karena itu, Jokowi ingin menghentikan FI sekarang juga. Akan tetapi, itu adalah hal yang sangat sulit sekali. Kontrak mereka baru berakhir pada tahun 2021 dan negosiasi perpanjangan kontrak dapat dilakukan 2 tahun sebelum kontrak berakhir, yaitu pada tahun 2019. Oleh karena itu, jika Jokowi menghentikan sekarang, maka hampir pasti FI akan menuntut pemerintah Indonesia, misalnya melalui arbritase International, dan dapat dipastikan bahwa Indonesia akan kalah, karena memang sudah jelas sekali dalam kontrak, bahwa baru berakhir pada tahun 2021. 

Jokowi juga tidak dapat membuat suatu keputusan bahwa setelah tahun 2021 maka FI tidak boleh diperpanjang. Mengapa? Karena dalam klausul kontrak yang telah ada, negosiasi baru dapat dilakukan dua tahun sebelum kontrak berakhir, yaitu pada tahun 2019. Apakah keputusan kontrak tidak bisa dilakukan sebelum 2019? Boleh saja, asalkan tidak ada salah satu yang protes. Tapi jika salah satu tidak setuju, maka bisa protes dan keputusan itu bisa menjadi batal. Jadi Jokowi sekarang bisa apa? Ya tidak bisa apa-apa, selain memberikan warning bahwa FI tidak bisa diperpanjang, meskipun itu baru dapat diundangkan pada tahun 2019.

Nah, pihak FI tahu betul itu dan mereka pun tidak tinggal diam. Selama ini, FI selalu memperpanjang kontrak karya di Indonesia, karena memang menguntungkan. Kontrak dapat diperoleh dengan melalui perantara yang mempunyai akses kepada para pihak yang mempunyai wewenang untuk memperpanjang kontrak. Siapa itu? Nah dulu-dulu FI sudah hapal dengan orang-orang yang bisa diajak kerja sama untuk memperpanjang kontrak. Baru kali ini mereka bertemu dengan orang yang benar-benar Koplak, eh salah Koppig (ini benar gak ejaannya) yaitu Jokowi. Presiden sekarang benar-benar keras kepala dan mengatakan tidak akan memperpanjang kontrak. FI berusaha untuk mencari siapa saja yang mampu melunakkan hati si Koppig agar mau memperpanjang kontrak. Berapa pun akan dibayar asal bayarannya masuk akal dan ada jaminan diperpanjang.

Pada saat inilah, masuk SN yang memang sudah pakar dalam melakukan lobi-lobi. Ini terbukti dari sejarah, sejak jaman kasus Bank Bali, dan berbagai kasus lain yang selalu berhasil dilakukan SN. Pihak FI pun terbuka dengan siapa saja yang mampu memuluskan perpanjangan kontrak. Hanya sayangnya, setelah dipikir-pikir permintaan SN terlalu tinggi dan juga tidak ada jaminan bahwa kontrak akan diperpanjang. Ini bisa menjadi masalah serius, ketika biaya sudah dibayarkan, ehhhh kontrak tetap tidak diperpanjang oleh Si Koppig. Nah…untuk keluar dari masalah ini, direkamlah pembicaraan atau obrolan terus dipublish……

Saat tulisan ini ditulis, sedang ada sidang MKD tentang nasib SN karena dianggap telah melanggar kode etik dengan bertemu atau mengatur pertemuan dengan pengusaha dan juga mencatut nama Presiden dan Wapres. Saya tidak tahu hasilnya. Tapi yang jelas, ribut-ribut ini tidak akan lama. Paling sekitar Maret 2016 isu ini sudah hilang, tertimpa oleh isu lain. Nah pada saat itulah, FI akan aktif lagi mencari calo atau siapa saja yang sanggup membantu untuk melunakkan hati Si Koppig agar mau berkenan memperpanjang.

Saya sendiri berani bertaruh, bahwa nantinya FI akan tetap diperpanjang, entah berapa lama perpanjangannya. Apakah saya beranggapan bahwa Jokowi tidak koppig? Bukan itu. Jokowi sebenarnya juga membuka perpanjangan asal menguntungkan Indonesia. Apa itu? Ya silahkan browse sendiri lah, misalnya pembagian hasil lebih tinggi, ada smelter dan lain-lain. Saya yakin bahwa akhirnya FI akan luluh mengikuti kemauan Jokowi untuk bisa memperpanjang kontrak, akan tetapi dengan embel-embel menguntungkan rakyat Indonesia


Ini opini lho…….





Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment